Diduga Oknum Polisi Bekingi KPPS Indikasi Adanya Lakukan Kecurangan Pilkada Sampang

Sorot sampang – Pesta demokrasi Pilkada di Kabupaten Sampang (27/6) khususnya di wilayah pantura Kecamatan Sokobanah telah berjalan dengan aman dan tertib , Namun yang perlu di pertanyakan oleh para pemburu berita dan masyarakat pada kususnya  KPU Sampang diduga tidak transparan, netral dan tidak obyektif dalam hal penghitungan  suara .
Sebut saja Ustad Behri Ketua PPS Desa Sokobanah Daya sebagai penyelenggara pemilu.( 29/06 ) menurut sumber bahwa Ustad Behri selaku Ketua PPS diduga memerintahkan dengan tegas dan mewanti-wanti kesemua anggota PPS untuk mendukung salah satu paslon bupati sampang yaitu nomor urut 2 Hermanto-Suparto (mantap), Ustad Behri tersebut memerintahkan agar semua undangan tidak di sebar semua supaya masyarakat tidak datang semua ke TPS dan sisanya suara di coblos sendiri oleh anggota PPS. ” jelas sumber kepada sorottransx .
Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya ,diduga Ustad Behri telah menerima uang  banyak dari pasangan calon nomor dua MANTAP itu mas, saya sebagai anggota PPS sakit hati karena hanya di kasih sedikit dana dari P.Herman itu, Behri memerintahkan ke kita agar mengikuti perintahnya.
Lanjut saksi mengatakan bahwa paslon nomor urut 2 P.Herman harus mendapatkan 3000 suara, saksi nomor 1 dan nomor 3 di lobi sama Behri mas mungkin di kasih duit juga biar diam, fakta yang terjadi dilapangan bahwa semua masyarakat yang masuk ke TPS di tanya Mau Nyoblos Siapa? kalau bilang “Saya Mau Nyablos Nomor 2″ itu di kasih suara 20 lembar kertas suara mas, dan saksi nomor 1 dan 3 waktu itu hanya diam saja karena diduga sudah di lobi sama Ustad Behri sebelum pencoblosan, dan kalau ada orang bilang mau nyoblos nomor 1 atau 3 itu dikasih suara cuman  satu” ungkap beberapa anggota PPS yang tidak mau di sebutkan namanya kepada wartawan SorottransX. usai pencoblosan.
Ustad Behri saat di temui oleh sejumlah beberapa wartawan yang berada dilokasi   berbicaranya simpang siur dan saat di tanya mengenai ketidak netralannya selaku ketua panitia malah terkesan agak marah sambil berucap ” masalah ini kalau sampean beritakan saya mau gugat sampean mas, saya mau bayar jaksa nanti biar semua wartawan di hukum” ucap Behri dengan nada tersinggung
Hamit ketua PANWASCAM (Panitia Pengawas Kecamatan) saat di temui di rumahnya mengatakan dirinya tidak akan mentoleransi KPPS siapa saja yang bermain duit atau menerima suap dari siapa saja “saya akan tindak tegas kalau nanti ketahuan KPPS menerima uang suap dari siapa saja mas, saya akan laporkan ke atasan saya nanti kalau memang kabar itu benar adanya dan saya tidak akan mentoleren itu” ungkapnya.
Ironisnya aparat yang seharusnya netral dalam pengamanan pilkada ketika dalam penghitungan suara (rekapitulasi) ada larangan dari pihak aparat yang bertugas waktu itu melarang keras semua wartawan untuk melakukan peliputan tanpa terkecuali,ditempat tersebut yang jelas sikap petugas yamg tidak netral adalah menyimpang dari edaran kapolri bahwa tidak dibenarkan petugas dari kepolisian turut praktis dan terlibat langsung dalam kegiatan pulkada.
Sekedar di ketahui dalam pemilihan kepala daerah sampang 27 juni kemarin di Desa Sokobanah Daya nomor urut 1 JIHAD mendapatkan suara sebanyak 1782, sedangkan nomor urut 2 MANTAP mendapatkan 2069 suara, dan nomar urut 3 HISBULLAH mendapatkan 1012 suara.
Demi nama baik dan citra positif  desa sokobanah dalam pesta demokrasi tahun 2018 ini kiranya Panwascam kecamatan segera menindak dan memberikan sangsi kepada petugas didesa yang diduga menyimpang dari kewenangan jabatan dan melakukan kecurangan dalam melaksanakan tugasnya  (idris/saman/hori/adi).

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register