Luar Biasa Diduga Menipu 15,3 Milliar Dua Terdakwa Statusnya Malah Menjadi Tahanan Kota

DUA TERDAKWA DIRUANG SARI


KEBIJAKAN HAKIM  MAXI MEROBAH STATUS DARI TAHANAN RUTAN MENJADI TAHANAN KOTA BISA DIJADIKAN YURISPRUDENSI BAGI HAKIM YANG LAINNYA JIKA MEMERIKSA PERKARA TERDAKWA  YANG SUDAH  LANJUT  USIA DAN  SAKIT SAKITAN.

Sorot Surabaya – Sidang terbuka untuk umum di ruang sidang Sari PN Surabaya Kamis 20 Juni 2019 lalu dengan agenda mendengarkan tanggapan JPU Darmawati lahang dari Kejati Jawa timur atas nota keberatan ( eksepsi ) dua terdakwa penipuan yakni IrSetijo Budianto dan Ir Valentinus Iswara .


Dalam tanggapan Jaksa Penuntut Umum ( JPU ) Darmawati lahang menolak eksepsi dua terdakwa ,karena sudah memenuhi dan memasuki unsur syarat formil dan materiil,maka memohon kepada majelis hakim yang memeriksa perkara ini untuk menolak eksepsi kedua terdakwa tersebut.
Dalam menanggapi tanggapan JPU hakim akan bermusyawarah terlebih dahulu , dan sidang akan dilanjutkan pada tanggal 2 Juli pekan depan dengan agenda sidang, hakim akan membacakan putusan sela atas dua terdakwa tersebut.


Terpisah masih diruang sidang sari Dibyo Aries Sandi SH kuasa hukum dua terdakwa pertanyakan kembali kepada hakim Maxi terkait permohonan pengalihan status penahanan rutan menjadi tahanan kota  atas dua terdakwanya yang pernah diajukan beberapa waktu yang lalu.
Dengan pertimbangan para terdakwa sudah lanjut usia dan sakit sakitan ,maka hakim Maxi spontan mengabulkan permohonan dua terdakwa tersebut untuk menjadi tahanan kota.


Sehingga kebijakan hakim Maxi kepada dua terdakwa Setijo Budianto dan Valentino Iswara dari tahanan rutan menjadi tahanan kota bisa dijadikan Yurisprudensi oleh hakim yang lainnya dalam memeriksa perkara dengan terdakwanya yang sudah lanjut usia dan sakit sakitan.


Untuk diketahui dua terdakwa Direktur utama dan wakil direktur PT Pradiptaya diajukan dalam persidangan karena diduga menggelapkan uang perusahaan milik PT PRIMA SENTOSA GANDA sebesar Rp 15,3 milliar atau DP 20 % dari nilai pekerjaan yang didapat dari kesepakatan kerja sama proyek pembangunan mekanikal dan elektrikal Pranxis Surabaya dengan nilai kontrak Rp 78 milliar 925 juta rupiah.


Antara PT Primasentosa Ganda ( sebagai pemberi tugas ) dan PT Pradiptaya ( sebagai penerima tugas )dasar tugas dari Surat perin Tah Kerja ( SPK )dari Dirut Sinarto Dharmawan dan wakil direktur Happy Gunawan mewakili direksi PT Primasentosa Ganda dengan SPK nomor :003/PSG/PRAXIS/SPK/IV/2015 tanggal 28 April 2015 silam .


Kiranya dalam kesepakatan kerjasama waktu yang ditentukan 540 Hari tidak juga selesai pekerjaan tersebut dan dua terdakwa selaku Direktur PT Pradiptaya  pemenang tender tersebut lalai dan tidak menepati janjinya .

Terpisah konfirmasi ke Hakim Sigit humas PN Surabaya kamis ( 27/6) dikantornya terkait adanya kebijakan hakim Maxi mengalihkan status penahanan kota dua terdakwa diduga nenipu Rp 15.3 milliar ,berikut pernyataan humas ” sejauh ini saya belum tahu persis ,saya tahu dari membaca koran,jadi ada tidaknya surat rekam medicnya dari dokter saya belum tahu, atau pertimbangan lain coba tanyakan saja kepada hakim Maxi,bahwa sudah dari humas ” jelas Sigit

Sampai berita ini diturunkan belum didapat keterangan dari Hakim Maxi terkait kebijakannya mengalihkan status tahanan dua terdakwa menjadi tahanan kota,karena beliau hari itu ( kamis) tidak masuk bekerja.


Dalam surat dakwaan JPU no perkara : 1466/Pid.B/2019/PN/SBY pada terdakwa diduga melanggar pasal 378 jo.pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana penjara selama empat tahun .
Sidang selanjutnya digelar pada tanggal 2 Juli dengan agenda putusan sela ( Ad /yess).

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register