* Sesungguhnya Amalan Yang Baik Adalah Menjaga Shalat Dan Lisan *

Sesungguhnya ada dua amal yang menentukan baik atau tidaknya seseorang. Apabila keduanya baik, maka إن شاء الله semua amalnya akan baik. Dan apabila keduanya buruk, maka amalan yang lainnya ikut buruk.

*Amalan pertama adalah shalat.* Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح له سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (HR. Ath-Thabrani)

Hadits di atas menunjukan bahwa kebaikan amal seseorang mengikuti shalatnya. Apabila shalatnya buruk, dia tidak memperhatikan tuma’ ninahnya, rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, bahkan ia lalaikan shalat tersebut, menyebabkan amalan yang lainpun bengkok.

Oleh karena itulah, apabila seseorang bisa memperbaiki dan menjaga shalatnya, maka iapun إن شاء الله akan bisa menjaga amalan yang lainnya. Karena sesungguhnya shalat itu memberikan kekuatan kepada hati seorang hamba. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut [29] :45)

Seorang hamba yang benar-benar melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyu’an, maka shalat itu akan memberikan kekuatan kepada hatinya. Suatu hari dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang dia diwaktu malam shalat tahajud, tapi apabila diwaktu pagi ia mencuri. Maka Rasulullah bersabada, “kelak shalatnya akan mencegah dia”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “kelak shalatnya akan mencegah dia”. Hal ini tentu jika orang itu benar-benar menjaga syarat dan rukun shalat. Sebaliknya, orang yang apabila dia shalat tapi tidak memberikan kekuatan apa-apa dan kemaksiatan terus dia lakukan. Hal itu menandakan bahwa ada sesuatu didalam shalatnya. Barangkali dia tidak menjaga rukun-rukunnya, barangkali dia melalaikannya, barangkali dia tidak menjaga keikhlasannya dan kekhusyu’annya. Sehingga shalatnya tidak berpengaruh didalam hidupnya.

Sesungguhnya Allah subahanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk terus menjaga shalat dan menjaga anak-anak serta keluarga untuk shalat. Allah subahanahu wa ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
 
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Thaha [20] : 132)

Sesungguhnya shalat, memberikan fungsi yang besar dalam kehidupan seorang hamba. Ia adalah *alat komunikasi dengan Allah*. Bermunajat dalam sehari lima kali dan bahkan lebih dari itu. Orang yang shalat, akan senantiasa digugurkan dosa-dosanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ كُلِّهَا؛ فَوُضِعَتْ على رَأْسِهِ وَعَاتِقَيْهِ، فَكُلَّمَا رَكَعَ، أَوْ سَجَدَ تَسَاقَطَتْ عَنْهُ

“Sungguh, jika seorang hamba berdiri untuk shalat, maka semua dosanya didatangkan, dan diletakkan di atas pundaknya. Maka setiap kali dia ruku’ dan sujud, maka berjatuhanlah dosa-dosa tersebut darinya”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

Maka dari itu, *orang yang menjaga shalatnya, Allah akan jaga amalan yang lainnya*. Orang yang menyia-nyiakan shalatnya, maka iapun akan menyia-nyiakan amalan yang lainnya.

*Amalan yang kedua, yaitu menjaga lisannya*. Orang yang menjaga lisannya, maka Allah akan jaga amalannya. *Orang yang lurus ucapannya, Allah akan luruskan amalannya*. Tapi siapa yang lisannya bengkok, maka amalan yang lainpun akan bengkok.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٧٠﴾ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿٧١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33] : 71-72)

Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk meluruskan perkataan kita. Mengucapkan kata-kata yang baik, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan balasannya. Niscaya Allah akan perbaiki amalan kalian.

Orang yang tidak bisa menjaga lisannya, dia mengghibah dan menyakiti hati manusia, dia menyakiti tentangganya, demi Allah, orang ini tidak akan diperbaiki amalannya. Bahkan amalannya bisa jadi tidak dinilai oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana disebutkan didalam hadits. Dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang wanita yang banyak shalat malam, banyak puasa sunnah, banyak bershadaqah, akan tetapi lisannya banyak menyakiti tentangganya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “tidak ada kebaikannya wanita tersebut, ia termasuk dalam penduduk api neraka.”

Hanya karena lisannya yang menyakiti tentangganya, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kebaikan padanya. Padalah dia shalat malam, shadaqah dan puasa sunnah. Dari hal itulah, menunjukkan bahwa amalan seseorang mengikuti lisannya. *Apabila lisannya baik, Allah akan perbaiki amalannya*. Apabila lisannya buruk, Allah menjadikan amalannya pun bengkok.

Inilah dua perkara yang hendaknya sangat dijaga.

Sumber : radiorodja.com/29480-menjaga-shalat-dan-lisan-khutbah-jumat-ustadz-abu-yahya-badrusalam-lc/

Repost: @anazaenab

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu, menjadi sebab hidayah, dan Allâh membalas anda dengan kebaikan dan menjadi amal jariyah, serta memudahkan jalan kita menuju Jannah. آمِينَ.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register