Ratusan Mahasiswa Yang Tergabung Dalam HIMASANU Lakukan Orasi Damai Menolak Kedatangan President RI Hadir di Kota Ambon Maluku

Sorot maluku – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam (Himasanu) himpunan mahasiswa adat saka mese nusa , melakukan orasi damai di depan kantor DPRD provinsi maluku kamis ( 18/10 ).
Aksi dilakukan di depan kantor dprd para pengunjuk rasa meminta pertanggung jawaban ,pasalnya ketua komisi B DPRD provinsi maluku Evert Kermite sebelumnya telah melakukan Audensi dengan para pendemo satu bulan lalu, Kermite berjanji akan segera menyuarakan gubernur Maluku agar mencabut surat rekomendasi yang telah di keluarkan untuk PT. TWS.

Lantaran kesal sama janji manis ketua komisi B DPRD provinsi maluku , koordinator aksi ,(korlap), memasang kain berang merah di kepala ketua komisi B dprd , dan kemudian di lepaskan lagi.
Pelepasan kain berang lantaran hilangnya rasa percaya
Korlap satu.

Ekdar Tella Suneth menjelaskan bahwa, dalam ilustrasi degan secara tidak terhormat kami lepaskan kain berang dari kepala beliau lantaran kami menilai ketua komisi B DPRD provinsi Evert Kermite gagal menjaga Hak hak masyarakat adat kab.SBB
Beliau selaku Anak adat tapi tidak mampu menjaga yang namanya pusaka leluhur. ungkap.

Tella Suneth tak sampai disitu ,para Pendemopun menuju ke Kantor Gubernur Maluku dengan tuntutan yang sama yaitu segera mencabut rekomendasi yang di berikan pada PT.TWS yang telah meresahkan warga masyarakat tersebut

Pendemo mengancam jika gubernur maluku tidak mencabut rekomendasi untuk PT. Tanjung Wahana Sejahtera, mereka akan menolak kedatangan Presiden Joko Widodo di Ambon Kita secara tegas menolak kehadiran Presiden di Ambon. Jika gubernur tidak mencabut rekomendasi (untuk PT. Tanjung Wahana Sejahtera).

kami akan palang jalan saat presiden datang. Ini sebagai aksi penolakan kami,dan aksi ini akan kami lakukan ,agar di saksikan langsung oleh presiden , dan agar publik tau betapa buruknya kebijakan yang di ambil oleh gubernur maluku.

Kami Mahasiswa adat saka mese Nusa mengutuk perbuatan serupa, kami juga tidak segan segan melakukan aksi besar besaran, yang melibatkan masyakat adat yang ada di kota ambon.

Tidak berhenti sampai disitu, mereka juga mengancam akan menduduki kantor Gubernur dengan menurunkan masyarakat adat SBB dengan jumlah yang lebih banyak lagi jika gubernur Maluku masih kucing-kucingan tidak mau menemui mereka untuk berbicara baik-baik.

“Kami seperti orang asing di negeri sendiri, karena sampai detik ini kita diluar pagar dan tidak diizinkan masuk.
yang saya takutkan jangan sampai ada konspirasi busuk yang sengaja di mainkan oleh gubernur Maluku atas Titipan leluhur di bumi saka mese nusa ,
Kedatangan kita secara baik baik ,malah tidak di beri izin masuk
Di dewan (DPRD) berjalan baik, tapi kenapa kita disini (kantor Gubernur) kita di tahan. Ada apa semua ini.

Teriakan-teriakan pendemo ini terus berlanjut disaat Korlap melakukan negosiasi dengan aparat. Namun, karena tidak diperkenankan masuk ke dalam kantor Gubernur pendemo akhirnya membubarkan diri dan kembali ke titik kumpul ditribun ( ed) .

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register